2. Jika lantai yg dipipisi belum sempat dipel just dilap saja hingga kering terus digunakan untuk solat (dgn sajadah), apakah solatnya sah?

3. Jika lantai yg telah kering tadi terinjak, apakah wudhunya batal?

Terima kasih atas jawabannya.Wassalamu alaikum….

Anda sedang menonton: Air kencing bayi najis atau tidak

Ditanyakan malalui Sahabat bias T04-6237

Jawaban

Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah…

Kesimpulan:

1. Waiting kencing anak laki-laki hukumnya kotor jika cantik MP ASI, anak feminin hukumnya najis walau belum MP ASI.

2. Sholatnya sah.

3. Noël batal.

Bismillah,

Bersuci dari Kencing sayang – Menghilangkan najis dari Kencing Bayi

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ pernah ditanya:

Ketika seorang feminin melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, selama di dalam asuhannya bayi itu always bersamanya dan noel pernah berpisah, hingga terkadang pakaiannya terkena waiting kencing sang bayi. Apakah yang harus ia lakukan diatas saat itu, dan apakah ada perbedaan hukum pada air kencing bayinya laki-laki dengan bayi perempuan darimana kelahiran hingga berumur dua lima atau lebih? Inti pertanyaan ini adalah sekitar bersuci dan shalat serta sekitar kerepotan karena mengganti pakaian setiap waktu.

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ menjawab:

Cukup memercikkan air diatas pakaian apa terkana wait kencing bayi laki-laki jika ia belum mengkonsumsi pakan pendamping asi (MP ASI). Jika bayi laki-laki akun itu telah mengonsumsi makanan, maka pakaian apa terkana air kencing menyertainya harus dicuci. Adapun jika bayi itu perempuan, maka pakaian yang terkena air kencingnya harus perlakuan baik dia sudah mengonsumsi memberi makan pendamping ataupun belum. Ketetapan ini bersumber dari hadis yang dikeluarkan melalui Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud dan lain-lainnya, sedangkan lafazhnya adalah dari Abu Daud. Abu Daud telah mengeluarkan hadis ini di dalam kitab sunan-nya mencapai sanadnya dari Ummu Qubais bintu Muhshan,

“Bahwa ia bersama bayi laki-lakinya apa belum mengonsumsi memberi makan datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendudukan bayi itu di di dalam pangkuannya, lalu bayinya itu kencing di atas pakaian beliau, maka Rasulullah tuntutan diambilkan air kemudian memerciki pakaian itu menjangkau air tanpa mencucinya.”

Dikeluarkan melalui Abu Daud dan Ibnu Majah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabada.

“Pakaian yang terkena wait kencing bayinya perempuan harus dicuci, sedangkan pakaian apa terkena kencing bayi laki-laki cukup diperciki mencapai air.”

Dalam riwayat lain menurut Abu Daud,

“Pakaian apa terkana wait kencing bayinya perempuan harus dicuci, sedangkan pakaian yang terkena air kencing bayinya laki-laki maka diperciki mencapai air jika belum mengkonsumsi makanan.”

Bekas Najis yang Sudah Kering

Bagaimana bekas najis yang telah hilang/terangkat untuk sinar matahari maupun angin, sebagai kencing bayi apa sedikit di pakaian kita?

Kaidah pokok apa berlaku batin masalah ini adalah

الحكم يدور مع علته وجوداً وعدماً

“Hukum itu bergantung di atas ada dan tidaknya ‘illah”

‘illah adalah segala sesuatu apa menyebabkan adanya hukum tertentu. Misalnya, perempuan haid pelarangan shalat. Adanya beraksi ‘dilarang shalat’ buat adanya ‘illah berupa datang bulan. Kapan si wanita telah selesai haid, maka dia kembali wajib shalat, buat ‘illahnya sudah noël ada.

Semacam also berlaku karena benda suci apa terkena najis. Baju atau kain suci yang terkena najis, statusnya were najis, sehingga noel boleh digunakan untuk shalat. Adanya hukum kain itu statusnya kotor dan noel boleh digunakan untuk shalat, untuk adanya ‘illah berupa benda najis apa melekat di bahan itu. Sehingga selagi benda kotor itu telah hilang, maka bahan itu kembali menjadi suci, karena ‘illahnya sudah noël ada.

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

إذا زالت عين النجاسة بأي مزيل كان، فإن المكان يطهر، لأن النجاسة عينٌ خبيثة، فإذا زالت زال ذلك الوصف وعاد الشيء إلى طهارته، لأن الحكم يدور مع علته وجوداً وعدماً

Apabila barang najis (yang menempel di benda suci) telah hilang menjangkau apapun caranya, maka benda itu back suci. Untuk barang najis adalah barang kotor, sehingga kapan barang tercemar ini siap hilang maka sifat kotor diatas benda (yang ketempelan najis) tersebut hilang, dan benda itu bagian belakang suci. Buat setiap hukum bergantung kepada ada dan tidaknya ‘illah.

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, jilid 11, Bab. Izalah An-Najasah).

*

Menghilangkan Najis noël Butuh Amal Tertentu

Perbuatan apa dilakukan manusia, secara garis besar bisa dikelompokkan were dua, yaituMelakukan perintah (fi’lul ma’mur) & Menjauhi larangan (ijtinabul mahdzur)

Hilangnya najis, tersirat jenis apa kedua, yaitu menjauhi larangan. Artinya, untuk menghilangkan najis, kita noël diharuskan melakukan amal tertentu. Selama najis yang menempel di benda penasaran itu telah hilang, bagaimanapun caranya, maka status benda itu kembali suci. Dalil yang menunjukkan bab ini adalah hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

كَانَتِ الْكِلاَبُ تَبُولُ وَتُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِى الْمَسْجِدِ فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ

“Dulu anjing-anjing sering kencing dan keluar-masuk masjid diatas zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun mereka (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya) noel mengguyur kencing anjing tersebut.”

(HR. Bukhari 174, Abu Daud 382, dan lainnya).

Pada hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam para sahabat adopsi suci semua tanah masjid, padahal bisa enim ada anjing yang kencing di sana. Namun, mengingat kotor itu siap hilang untuk menguap, mereka menghukumi tanah itu noel najis.

Dalam Aunul Ma’bud dinyatakan,

وَالْحَدِيثُ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْأَرْضَ إِذَا أَصَابَتْهَا نَجَاسَةٌ فَجَفَّتْ بِالشَّمْسِ أَوِ الْهَوَاءِ فَذَهَبَ أَثَرُهَا تَطْهُرُ إِذْ عَدَمُ الرَّشِّ يَدُلُّ عَلَى جَفَافِ الْأَرْضِ وَطَهَارَتِهَا

Hadis ini unjuk dalil bahwa tanah apa terkena najis, kemudian kering untuk terik matahari atau ditiup angin, sehingga bekas najisnya cantik hilang maka negara itu menjadi suci. Karena, noel diguyur air (pada hadis Ibnu Umar di atas), demo bahwa tanah itu telah kering, dan bagian belakang suci.

Selanjutnya penulis mengatakan,

فَرُوِيَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ أَنَّهُ قَالَ جُفُوفُ الْأَرْضِ طُهُورُهَا

Diriwayatkan dari Abu Qilabah bahwa keringnya tanah, merupakan cara mensucikannya

(Aunul Ma’bud, Syarh Abu Daud, 2:31).

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

وإزالة النجاسة ليست من باب المأمور به حتى يقال: لابد من فعله، بل هو من باب اجتناب المحظور

“Menghilangkan kotor bukanlah tersirat suatu amalan apa diperintahkan, sehingga dikatakan, harus melakukan amal tertentu karena menghilangkan najis. Namun, terkait najis, tersirat bentuk menjauhi larangan.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, jilid 11, Bab. Izalah An-Najasah).

Lihat lainnya: Apakh Mata Terkena Asi Kena Mata Bayi Bahaya Tidak, Apakh Mata Terkena Asi Bisa Buta

Jadi kencing bayi yang menempel di pakaian dari mereka dan siap kering, kemudian dipastikan menjangkau yakin noël ada another bekas air kencing yang menempel di baju tersebut, maka pakaian anda kembali suci.