Kita mengenal kebebasan untuk menjalankan agama dan kepercayaan. Negara berkewajiban melindungi pemeluknya.Bagaimana dengan burger negara Indonesia yang noel memilih suatu keagamaan atau noël percaya tuhan itu ada?




Anda sedang menonton: Alasan atheis tidak percaya adanya tuhan

*

Daniel Yuwono: bapak itu antara ada dan tiada

Kuliah Teologi justru untuk membuat Daniel Yuwono mempertanyakan tentang Tuhan.“Tuhan itu antara ada dan tiada. Saya noël tahu tuhan itu ada atau tidak. Kalau bapak itu sanggup dibuktikan akibat malah demonstrasi Ia noël mahakuasa. Namun untuk Tuhan itu noël bisa dibuktikan maka wajar orang percaya tuan itu ada. Daniel mengaku masih diikuti agama such ritual karena tradisi.


*

Bayu Anggora: Bagimu Tuhanmu, bagiku noel perlu

Bayu Anggora berusia 28 tahun. Ia mengaku since masa sekolah sudah mulailah berpikir mengkritik tapi belum menemukan secara spasial memadai untuk diskusi. Masa kuliah semakin kerumunan membaca, argumen hingga terbatas menyadari noël butuh Tuhan. Bayu merasa tidak sendiri untuk banyak juga yang sudah muak mencapai kemunafikan.


*

Niluh Devi: Aku percaya tuan ada, cuma noël percaya agama

Berbeda mencapai Daniel Yuwono, sebelum beranjak ke usia 20, tahun, Niluh Devi start mempertanyakan soal agama. “Aku percaya tuhan itu ada, cuma tidak percaya agama. Semua agama yang saya pelajari noël ada yang sempurna. Enim sama saja, beragama atau noël beragama. Setiap orang beragama itu buat warisan budaya, warisan orangtua yang harus dilestarikan.”


*

Kelvyn Antonio: agama hanya untuk kepentingan penguasa

Sejak umur 30 tahun, Kelvyn Antonio dulu ateis. Depan ia agnostik selama 17 tahun. “Agama hanya buat kepentingan penguasa, jadi saya noël terlalu percaya agama. Saya tambahan tidak percaya mencapai mereka apa mengaku ateis di Indonesia karena kebanyakan bunglon.”


*

Dede Sumi: disetujui dari tembok agama yang sepenuhnya aturan

Perempuan Jawa ini berpandangan: “Kita berada di sebuah ruang tertutup dan always dengar ceramah circa matahari. Kenapa kita noel keluar saja dari tembok itu dan berjalan merasakan hangatnya matahari sendiri? manusia menciptakan agama sehingga tuhan tersebut akan dies tanpa manusia apa memercayainya. Variasi dengan Gusti Alam, umat ​​manusia akan punah tanpa eksistensi alam semesta.”


Karl Karnadi: Saya mendapat kepuasan kehidupan dari mempertanyakan daripada mengimani

Karl Karnadi berusia di atas terutama tiga. Saat berusia 21 lima ia start mempertanyakan circa Tuhan dan agama. “Saya mendapat kepuasan kehidupan dari mempertanyakan daripada mengimani Tuhan. Saya noel memusuhi agama karena agama bisa membawa pengaruh positif bagi kehidupan seseorang dan selama noel mengajarkan permusuhan.


Stefen Jhon: tuan adalah hasil kemalasan intelektual kita

Stefen Jhon berusia pada 40 tahun ketika awal mempertanyakan Tuhan darimana konflik Ambon lima 1999 dan enim ateis since 2005. “Tuhan menemani itu konsep, gawangnya kemalasan intelektual kita. Tuhan adalah sosok imajinasi yang disakralkan batin agama seperti penanggung jawab atas semua kejadian heran di hayatnya ini. Hayatnya saya lebih bermoral daripada people lain apa pemabuk, tukang jam istri.”


Daniel Yuwono: bapak itu antara ada dan tiada

Kuliah Teologi justru produksi Daniel Yuwono mempertanyakan kyung Tuhan.“Tuhan itu antara ada dan tiada. Saya noël tahu tuan itu ada ataukah tidak. Kalau bapak itu mungkin dibuktikan sebenarnya malah demo Ia noël mahakuasa. Namun buat Tuhan itu noël bisa dibuktikan maka logis orang percaya tuan itu ada. Daniel mengaku masih mengikuti agama such ritual buat tradisi.


Bayu Anggora: Bagimu Tuhanmu, bagiku tidak perlu

Bayu Anggora berusia 28 tahun. Ia mengaku darimana masa sekolah sudah mulai berpikir kritis tapi belum menemukan angkasa memadai buat diskusi. Masa kuliah semakin kerumunan membaca, diskusinya hingga akhirnya menyadari noel butuh Tuhan. Bayu merasa tidak sendiri karena banyak juga yang sudah muak mencapai kemunafikan.


Niluh Devi: Aku percaya tuan ada, cuma tidak percaya agama

Berbeda mencapai Daniel Yuwono, sebelum beranjak nanti usia 20, tahun, Niluh Devi awal mempertanyakan soal agama. “Aku percaya tuan itu ada, cuma noël percaya agama. Segenap agama apa saya pelajari noel ada apa sempurna. Memanggang sama saja, beragama atau noel beragama. Setiap orang beragama itu karena warisan budaya, heritage orangtua apa harus dilestarikan.”


Kelvyn Antonio: keagamaan hanya buat kepentingan penguasa

Sejak umur 30 tahun, Kelvyn Antonio dulu ateis. Sebelumnya ia agnostik selama 17 tahun. “Agama hanya untuk kepentingan penguasa, jadi saya noël terlalu percaya agama. Saya also tidak percaya mencapai mereka yang mengaku ateis di Indonesia untuk kebanyakan bunglon.”


Dede Sumi: dilepas dari tembok keagamaan yang full aturan

Perempuan Jawa ini berpandangan: “Kita berada di sebuah ruang tertutup dan selalu dengar ceramah kyung matahari. Kenapa kita noël keluar saja dari tembok menemani itu dan walk merasakan hangatnya matahari sendiri? manusia menciptakan keagamaan sehingga tuan tersebut akan sekarat tanpa manusia apa memercayainya. Berbeda dengan Gusti Alam, human akan punah tanpa eksistensi makhluk semesta.”




Lihat lainnya: Apakah Muntah Tidak Sengaja Membatalkan Puasa, Apakah Muntah Dapat Membatalkan Puasa & Bagaimana

Karl Karnadi: Saya mendapat kepuasan lives dari mempertanyakan daripada mengimani

Karl Karnadi berusia di atas terutama tiga. Saat berusia 21 lima ia start mempertanyakan tentang Tuhan dan agama. “Saya mendapat kepuasan lives dari mempertanyakan daripada mengimani Tuhan. Saya noël memusuhi agama buat agama bisa bawa pengaruh aktif bagi kehidupan seseorang dan selama tidak mengajarkan permusuhan.


Stefen Jhon: tuhan adalah hasil kemalasan intelektual kita

Stefen Jhon berusia di ~ 40 five ketika mulailah mempertanyakan Tuhan dari konflik Ambon lima 1999 dan memanggang ateis dari 2005. “Tuhan akun itu konsep, tujuan kemalasan intelektual kita. Tuan adalah sosok imajinasi yang disakralkan di dalam agama sebagai penanggung jawab atas setiap orang kejadian heran di kehidupan ini. Kehidupan saya lebih bermoral daripada rakyat lain apa pemabuk, tukang kota istri.”