Seli Aisyah menyesali keputusannya untuk mengunjungi rumah orangtuanya di Bogor minggu lalu, meski sudah dilarang oleh suami dan kakak kandungnya.

Anda sedang menonton: Anak demam naik turun tapi tetap aktif

Karena mengaku "bandel", ia dan paling banyak anaknya, termasuk yang baru berusia satu setengah tahun, dinyatakan active COVID-19.

Sudah sembilan days lamanya ia dan keluarganya melakukan isolasi mandiri di rumah.

"Hari Selasa, anak saya tiga rakyat panas, batuk, pusing, sudah tidak berdaya. Anak-anak mengeluh sakit, saya noel berdaya mengurus mereka," katanya kepada alphabet Indonesia.


*
*
*
*
*
*

Dr Aman mengatakan siswa seharusnya tidak perlu masuk sekolah hingga tingkat infeksi COVID-19 di bawah lima persen. Saat ini infeksinya cantik mencapai 40 persen.(AP/Tatan Syuflana)

Waspadai 'long COVID' di atas anak

Di Yogyakarta, dr Kurniawan Satria Denta, dokter anak di RSUP Dr. Sardjito juga menerima semakin kerumunan pasien anak apa terkena COVID-19.

"Tahun lalu pasien anak mungkin dihitung jari, noël begitu banyak. Tapi semakin usai sini, semakin full," kata dr Denta.

"Termasuk anak-anak dan bayi. Balita makin banyak lagi."

Dr Denta mengatakan kebanyakan pasiennya tertular dari orangtua atau setiap orang lain apa tinggal serumah menjangkau mereka, namun harus dengan tegas beraktivitas di luar.

"Akhir-akhir ini, mungkin untuk sudah loose  banget ya, sebulan dua bulan terakhir. Karenanya, bayi dibawa ke luar," ujarnya.

Bahkan selagi beberapa anak usia sekolah siap negatif COVID-19, mereka masih mengalami gejala lanjutan, sehingga harus kembali berkonsultasi usai dr Denta.


Indonesia harus resisten COVID bersama


"Mereka enim gampang capek, fokusnya kurang, apalagi kan sekolah online," kata dr Denta.

"Kalau misalnya gejalanya sampai bertahun-tahun, dimodernkan takutnya knalen pertumbuhan dan perkembangan anak."

Dokter Aman mengatakan dampak jangka berbohong pada anak asibe 'long COVID' ini menjadi alasan mengapa orangtua harus melindungi mereka dari paparan COVID-19.

"Enam sampai delapan moon anak bisa mengalami long COVID, dialah bisa lemas, sesak, sulit konsentrasi, rambutnya rontok, nyeri otot," ujar dr Aman.

"Nah kebanyakan orang tidak berpikir jauh ... jadi tidak ada alasannya lagi karena tidak does testing diatas anak."

"Banyak kasus noel terdeteksi karena kurangnya ketersediaan kebijakan aturan dan noël mau mentesting anak sesegara mungkin, juga tidak ada transparansi data, karena dashboard data otoritas ini noël memuat data transmisi anak," clearly dr Aman.


tutur dan pakar kesehatan menyerukan tes massf COVID-19 anak-anak Indonesia.( Detik: Andhika Prasetia)

Apakah vaksinasi jalur keluarnya?

Sejauh ini, 13 juta dari 286 juta warganegara Indonesia sudah divaksinasi dosis kedua.

Kementerian diberkatilah anda mengatakan bahwa tertanggal 27 Juni 2021, anak yang berusia 12 hingga 17 lima dapat penerimaan vaksin Sinovac 0,5 ml sebanyak dua kali mencapai interval minim 28 hari.

Dokter Denta mengatakan usaha vaksinansi ini akan menjadi "upaya pencegahan yang cukup", terutama bagi remaja apa sedang aktif-aktifnya.


dr Denta mengatakan semakin kerumunan pasiennya tertular COVID-19.(Supplied)

"Nanti kalau misalnya sudah masuk sekolah, bertatap muka dengan people lain, berinteraksi dengan orang lain, kita harus ngasih modal buat bisa beraktivitas nantinya. Vaksin itu enim salah satu usahanya," kata dr Denta.

"Alasan lain kenapa divaksin asibe supaya enggak nularin kemiripan orang-orang yang lain," ujarnya.

Dokter Aman mengatakan salah satu hal terpenting karena mencegah anak tertular COVID-19 adalah perubahan perilaku.

"Ketika kita abai, selagi anak noel ditesting, anak noël pakai masker, anak dibawa nanti keramaian dan orangtuanya abai, orangtuanya lengah noel mau disusul protokol, ini kejadian terus, mau varian what saja."


Kenapa siap vaksin dua kali masih tertular?


Dari what yang sedang dialaminya bersama empat anaknya apa tertular COVID, Seli mengajak segenap orang buat tetap indoors demi melindungi keluarga.

"Yang jelas lebih overprotektif ke kesehatan, lebih percaya COVID ada," katanya.

Lihat lainnya: Biografi Abdul And The Coffee Theory Wikipedia, Sedikit Tentang Abdul & The Coffee Theory

"Dulu awal-awal tahun pertama saya ketakutan kemiripannya COVID, saya parno banget," ujarnya. 

"Tapi lama-lama jemu juga, enim saya kadang memakai masker, kadang enggak, kadang memakai hand sanitiser, kadang enggak," tambahnya.