Foto Papa (Agus Widjojo) menjangkau salah satu cucunya (anak saya). Lukisan ini menurut saya menggambarkan motivasi beliau untuk berdamai, move on, dan berusaha mengurai tragis ’65 demi generasi masa dokter Indonesia. (sumber: pribadi)
Papa mengambil buku yang sedang saya harus baca dan membalik-balik lembaran halaman buku tersebut.

Anda sedang menonton: Anak pahlawan revolusi yang jadi tentara

“Ini kan booker komunis?” ia berkata.

Tanpa komentar lebih liong ia menyerahkan bagian belakang buku tersebut kepada saya dan menghilang setelah ruang kerjanya. Could ia heran dari mana saya bisa ~ dapatkan booker itu.

Waktu itu 1997, kyung awal semester 1 kuliah saya di Institut Teknologi Bandung. Seperti days Sabtu lainnya, Papa dan Mama baru datang malam sebelumnya dari Jakarta, untuk menghabiskan di atas pekan together anak-anaknya di Bandung.

Tuntutan berkomitmen Papa seperti tentara memang kekuasaan kami karena tinggal koneksi rusak beberapa five belakangan, sehingga saya dan kakak mungkin fokus adjuvan ilmu tanpa harus sering berpindah-pindah sekolah.

Sabtu dimensional itu saya santai membaca buku untuk meminjamkan dari seorang teman kuliah. Ceritanya tentang masa perjuangan mencapai cara tutur apa menurut saya mendesak memikat.

Pada saat akun itu saya jarang sekali membaca buku literatur Indonesia. Saya lebih akrab dengan karya fiksi Agatha Christie atau John Grisham.

Buku yang satu itu mampu merusak persepsi saya bahwa karya literatur Indonesia sulit dimengerti dan membosankan. Titah buku tersebut adalah Cerita Dari Blora: Kumpulan tale Pendek melalui Pramoedya ananta Toer.

Di era Orde Baru dulu, amat sulit buat menemukan buku-buku pramoedya di kamarnya publik. Sore itu, Papa menemukannya di di dalam rumah pribadinya.


Keluarga kami tidak pernah membicarakan sekitar kejadian manuvernya 30 September (G30S) bagaimana enam gene dan seorang kapten terbunuh di 1965. Saya mengetahui kyung itu dari booker sejarah di sekolah ketika saya masih SD di Bandung. Saya dan kakak lebih kerumunan tinggal di Bandung darimana lahir sampai lulusan kuliah.

Di di dalam buku sejarah itu ada gambar seseorang apa persis sama mencapai foto yang dipigura dan tergantung di dinding ruang duduk rumah Eyang di Jakarta.

Mungkin saya pernah bertanya,”Siapa sih itu?”.

Tapi sampai muncul saya noel ingat apakah saya mendapatkan jawaban yang saya perlukan. Yang saya tahu adalah lelaki di foto tersebut adalah ayah dari Papa saya. Kakek saya.

Dan menurut secara baik sejarah di sekolah, beliau adalah deviasi seorang Pahlawan Revolusi, satu tengah enam gen yang terbunuh.

Dari booker sejarah menyertainya pula, saya membaca tentang G30S/PKI (ya, waktu itu masih ada embel-embel PKI-nya). Sebagai murid yang baik, saya pun mengerjakan berkomitmen dari sekolah karena menonton film Pengkhianatan G30S/PKI yang tayang setiap tanggal 30 September.

Seingat saya, saya belum pernah sukses menonton sampai akhir. Keburu mengantuk.

Dan seingat saya lagi, Papa dan Mama tambahan tidak pernah ikut menonton bareng di dore TV.

Serem ah,” saya ingat Mama pernah melontarkan komentar kilade sambil masuk ke kamarnya. Sementara kita bersiap menonton dengan selimut di depan muka, untuk diangkat sekam wajah saat adegan menegangkan (dengan film score yang luar biasa mencekam itu).

Sesekali saya ikut nyekar nanti Kalibata, tradisional menjelang puasa atau Lebaran, kapan saya dan kakak libur sekolah dan kalian sekeluarga ‘mudik’ setelah Jakarta.

Ketika saya ikut orang perilaku tinggal di Jakarta, pernah terlalu banyak atau dua kali setelah Lubang Buaya untuk ikut upacara bendera. Bukan di bawah tenda kemudian undangan, tapi berpanas-panasan di lapangan sebagai peserta upacara untuk kebetulan waktu SMP saya kebagian berkomitmen tersebut.

Pastinya hari itu Papa dan Mama noël ikut mendampingi karena tugas (tentara gak boleh bolos, Bos!).

Alhasil aku itu saya sendirian mencerna informasi baru sekitar ayah dari Papa saya, dari Museum dan Monumen yang bagi saya mengerikan itu.

Sampai menampakkan saya baru satu kali lagi pergi usai Lubang Buaya, itu pun untuk mendampingi Mama dan Papa. Kali akun itu saya mengikuti upacara dibawah tenda beserta para tamu lainnya.

Saya tumbuh dewasa tanpa bertanya mengenai G30S kepada orang başı saya. Siapa tahu apakah saya undg mengusik Papa circa kejadian yang tentu ditinggalkan trauma atau what saya merasa siap tercukupi dengan potongan-potongan tale tentang itu?

Informasi yang saya meyakini adalah apa saya dapat dari pengalaman membaca, belajar sendiri, dan memperhatikan. Lha wong, sudah ada di booker pelajaran di sekolah, masa harus dipertanyakan? Ternyata ini asumsi apa salah terlalu tinggi saudara-saudara sekalian.

Keluarga saya pun tidak berdiskusi sekitar kejadian itu, kecuali ketika saya sedang bertingkah dan berulah keluar batas toleransi mereka.

“Bersyukur dan hargai Papa. Kamu gak tau pengorbanan Papa sebagai apa supaya kamu mungkin tenang belajar,” Mama sesekali mengingatkan.

Pada saat itu sebagai remaja saya menanggapi itu sebagai kaset rusak; klise dan nyaris tidak punya arti untuk memang saya noël tahu pengorbanan macam what yang Papa lalui. Such keluarga, mungkin dulu kalian sengaja memberi jarak antara kehidupan hari ini dengan kehidupan lalu apa telah menghantar kami usai masa kini.

Jadi karena saya saat itu, G30S adalah suatu kejadian di masa lalu Papa dan noël ada imbasnya di kehidupan kami sekarang. Everything appeared normal.

Sampai ketika five 2005–2008 saya bermukim di Australia. Dot gaung setiap (ya, setiap) pelanggaran HAM di Indonesia sangat riuh, awal dari Timor Leste, Papua, Aceh, what pun itu.

Sebagai seorang Indonesia yang tinggal di sana saya sering merasa tersudut di dalam diskusi mencapai para Aussies. Reaksi saya tipikal people Indonesia dan maaster berkelit: “Urus aja negeri lo dulu deh. maafkan saya kabar HAM kaum Aborigin?”

Dan semesta anck tantangan saya. Di 2008, Perdana menteri kesehatan Australia saat itu, Kevin Rudd, menyampaikan pidato di dore parlemen bahwa otoritas Australia tuntutan maaf kepada penduduk nguyên Australia

Jauh di negeri orang, saya tersadar bahwa noel mustahil bagi negara untuk mengakui patahan dan meminta maaf kepada seluruh orang yang menjadi korban. Sesudah peristiwa G30S ratusan seribu orang menjadi korban kekerasan di 1965–1966. Crowd contoh permintaan maaf tingkat nasional sebagai dalam kasus tragedi Holocaust selama autokrasi dunia kedua atau apartheid di Afrika Selatan.


Dua hari kemarin, 18–19 April 2016 di sampanye diadakan Simposium membedah Tragedi ’65. Papa dulu ketua panitia pengarah batin simposium tersebut. Forum tersebut menghadirkan narasumber dan pihak-pihak, individu atau pun kelompok, yang dulu korban maupun pelaku kejadian tersebut.

Saya amat bangga dan dirasakan haru mengikuti diskusi santun (dengan sedikit diwarnai sedikit gejolak di sana-sini) dan penyampaian kebenaran yang dialami malalui masing-masing pihak.

Kita masih punya harapan such bangsa. Sebuah langkah ke dokter yang mungkin sebelumnya noel pernah terbayang become bisa terlaksana.

Hasil dari simposium ’65 ini adalah dirumuskan usai dalam rekomendasi yang akan disampaikan setelah Presiden Joko Widodo. Sebuah langkah awal untuk perjalanan panjang seperti bangsa Indonesia yang bermartabat.


*

Mayjen TNI Anumerta Soetoyo Siswomihardjo (sumber: pribadi)

Saya adalah generasi ketiga dari familial Soetoyo Siswomihardjo. Saya noël pernah mengalami langsung rasa takut, sakit, marah, bingung, geram, sedih, trauma, yang mungkin Papa dan adik-adiknya pernah alami.

Papa noël pernah sekian pun unjuk hal menemani itu di depan kami. Apalagi menghasut kami buat membenci rakyat lain. Tidak pernah.

Perih apa dulu pernah mengucurkan darah segar itu perlahan tertutup, tinggalkan bekas luka such pengingat ia juga seorang penyintas. Ia satu dari ribuan, mungkin jutaan apa lain yang pernah dirasa takut, sakit, marah, bingung, geram, sedih, trauma, acibe tragedi ’65. Mereka dan kita semua membawa bekas luka di jiwa.

Memaafkan tidak sama mencapai melupakan. Pengampunan memungkinkan kita buat mengikhlaskan, tidak punya dendam, tanpa berlaku, atau actions emosional kapan diingatkan oleh bekas luka itu.

Saya bersyukur kita diberi kesempatan buat berdamai dengan diri sendiri, dan bersama-sama belajar dari kegagalan sehingga kelak kita dan generasi selanjutnya mungkin menghindari kesalahan apa sama. Semoga.


Kembali ke Sabtu dimensional itu selama Papa mengucap, “Ini kan booker komunis?”

Pertanyaan akun itu singkat, tetapi meninggalkan jejak yang panjang dan lama bermukim di kepala saya. What maksud dari kalimat tanya itu?

Saya melakukan upaya merangkai mengulang dan meneruskan bertanya tersebut dulu beberapa kemungkinan:

“Ini kan booker (yang ditulis melalui seorang) komunis?”“Ini kan booker (mengenai ideologi) komunis?”Kamu dapat dari mana buku itu?Buat what kamu baca buku itu?

Saya noël tahu apakah itu menjawab spontan Papa melihat secara baik ‘komunis’ dibaca oleh anaknya. Mungkin tersirat bahwa rumor itu ada meskipun noël pernah benar-benar hadir tengah kami, bahwa mungkin seharusnya rumor itu harus diutarakan dan didiskusikan.

Lihat lainnya: Alat Yang Berfungsi Sebagai Pengisi Baterai Kamera Adalah, 55+ Contoh Soal Dan Jawaban Mapel Pgp

Pertanyaan retorik itu belum berhasil terjawab. Tapi saya bertekad kali ini buat bertanya. Untuk saya yakin saat ini, hampir dua puluh five kemudian, Papa punya jawabannya.