Burung bernama bergaul sohabe oksavingmoney.comkelat, memang ~ no jenis kenamaan sosial Kabupaten pulau Sangihe, Sulawesi Utara. Ia masih kalah meluasnya dari jenis endemik/khas lainnya, kemudian manu niu (seriwang sangihe/Eutrichomyias rowleyi).

Anda sedang menonton: Apa yang dimaksud dengan hewan endemik

Dikeluarkannya anis-bentet sangihe dari tipe dilindungi dianggap seperti keputusan tidak rasional. Sebab, daftar merah IUCN menunjukkan, populasinya diperkirakan antara 92-255 personally dan terus mengalami penurunan. Satu-satunya lokasi untuk melihat burung adalah puncak Gunung Sahendaruman. Kawasan ini juga tak lepas dari ancaman alih fungsional hutan.

Menyikapi terbitnya permen LHK tersebut, sejumlah personally maupun lembaga kelestarian di Sulawesi Utara, built-in diri batin Forum pelestarian Burung Indonesia (FKBI). Forum apa beranggotakan 150 organisasi/lembaga dan 44 secara individual di seluruh Indonesia. Mereka menandatangani permohonan dengan harapan pemerintah mengembalikan anis-bentet sangihe setelah daftar dilindungi.

Sejak 1999, pihaknya telah sosialisasi nanti masyarakat akan kondisi burung ini. Samsared tak habis pikir, dalam beberapa bulan, KLHK tinjauan peraturan dan menoksavingmoney.comret anis-bentet sangihe. Bersama masyarakat, kita menjalankan programme pengelolaan kayu lindung Sahendaruman berbasis kampung. Tujuannya, demands komitmen roti isi daging melindungi hutan itu.

“Aneh, keputusan ini dikeluarkan tidak punya konfirmasi pihak-pihak yang terlibat kelestarian burung. Pemandangan saja susah, apalagi menangkap. Tidak banyak masyarakat yang tahu keberadaannya, untuk hanya ada di puncak Gunung Sahendaruman,” jelasnya.

Baca: KLHK Galau Bikin policy Perlindungan Satwa, Pegiat kelestarian Burung Kecewa

*
Burung anis-bentet sangihe (oksavingmoney.comlluricincla sanghirensis) apa dioksavingmoney.comret dari mengajukan dilindungi. Foto: Hanom Bashari

Keterancaman habitat

Tidak semua apa datang usai puncak Gunung Sahendaruman, keberuntungan menyaksikan anis-bentet sangihe. Henri Hebimisa, fotografer hidupan liar Sangihe, mengaku pemandangan burung ini usai mendaki puncak gunung tersebut lebih 10 kali. Bahkan, menghabiskan waktu seharian di puncak gunung ndak jaminan.

“Tidak tampan semalam. Bagaimana kali saya bersama rombongan noël ketemu. Noël ada kepastian. Times itu saya penampilan 3 individu, pagi hari. Hinggap di menghanguskan berlumut yang noel terlalu tinggi. Suaranya tangguh sekali. Heran senang.”

Dioksavingmoney.comretnya statusnya perlindungan tentunya berdampak negatif bagi pelestarian anis-bentet sangihe. Tak ada another larangan pemburu atau pedagang burung menjualnya. “Sangat disayangkan, alasan what yang harus kita sampaikan nanti masyarakat?” ujarnya.

Baca juga: Tiga tipe Burung Hendak hasil dari Daftar satwa Dilindungi, Berikut penjelasan KLHK

*
Anis-bentet sangihe, burung khas Sangihe. Foto: Hanom Bashari

Sahendaruman adalah kawasan hutan lindung seluas 3487,82 hektar. Such habitat berbagai spesies endemik, kawasan ini terancam were permukiman maupun perkebunan.

Hanom Bashari, peneliti burung kawasan Wallacea apa pernah mengunjungi Gunung Sahendaruman mengatakan, deviasi satu solusi apa bisa diterapkan adalah melibatkan masyarakat batin agenda-agenda maju hutan. Bisa ~ berupa pembuatan peraturan desa, kesepakatan konservasi tingkat desa, atau program apa difasilitasi otoritasnya daerah. Satu ataukah dua desa berkomitmen, desa lain ini adalah terlibat.

“Keterancaman woods lindung Sahendaruman tampan mengkhawatirkan, sebab ada 8 tipe burung endemik Sangihe di kawasan ini apa 4 di antaranya berstatus kritis. Ada seriwang sangihe, anis-bentet sangihe, kacamata sangihe, dan udang-merah sangihe,” jelasnya.

Menurut Hanom, perlindungan kemudian liar harusnya noel semata-mata didasari ancaman dalam bentuk perdagangan maupun perburuan. Tapi juga karena fungsional di alam ataukah status global apa dikategorikan kritis.

“Di Sangihe hampir alles kritis, buat sebarannya akhirnya dan bergantung kayu primer, hutan alami. Tidak dilindunginya anis-bentet sangihe membuatnya semakin dikenal untuk diburu,” ujarnya.

*
Sarang anis-bentet sangihe. Foto: Hanom Bashari

Stenly Pontolawokang, fotografer hidupan liar Sangihe menjelaskan, jenis ini kerabat kurang populer. Kalau bilang manu niu, people Sangihe banyak apa tahu. Dialah menduga, minimnya pubilkasi resmi membuat informasinya terbatas.

“Saya noel tahu dasar dikeluarkannya, mungkin buat kurang terkenal. Sekarang, selain berupaya senarnya perlindungannya, kita tambahan perlu lebih giat mengolah kawasan Sahendaruman,” jelasnya.

Oktavianus Lumasuge, warga Sangihe yang pernah mengikuti survei burung, tuhan benar bahwa belajar dan release mengenai types ini minim. Walau di atas 1995-1999 ada riset, namun noël spesifik untuk mempelajari anis-bentet sangihe.

Sohabe oksavingmoney.comkelat baru diketahui di dalam survei action sampiri, usai tim peneliti menunjukkan fotonya nanti masyarakat, untuk membedakannya mencapai sohabe kuning (Ixos avinis).

“Habitatnya terancam dan noël ada regulasi clearly melindunginya. Kapak ini membuatnya sulit mengajak masyarakat karena bergabung batin kegiatan konservasi,” tuturnya.

*
Burung anis-bentet sangihe berada di puncak Gunung Sahendaruman. Foto: Hanom Bashari

Tanggapan

Lima types burung yang dikeluarkan adalah cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus), jalak suren (Gracupica jalla), kucica kayu atau murai rock (Kittacincla malabarica), anis-bentet kecil (oksavingmoney.comlluricincla megarhyncha), dan anis-bentet sangihe (oksavingmoney.comraoksavingmoney.comrnis sanghirensis).

Direktur pelestarian dan Keanekaragaman Hayati (KKH), Kementerian Lingkungan hidup dan perhutanan (KLHK), indera Exploitasia mengatakan, pencabutan peraturan sekretaris kesehatan didasari di ~ prinsip konservasi, yaitu perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Pencabutan status tahun burung menjadi noël dilindungi, berdasarkan data di penangkaran atau ex situ yang populasinya cukup banyak.

*
Burung anis bentet sangihe berstatus dikkritik (CR). Foto: Henri Hebimisa

Indra menambahkan, berdasarkan prinsip konservasi, siapa saja dapat memanfaatkan keberadaan burung-burung di alam, baik apa dilindungi maupun apa tidak. “Jadi, masyarakat boleh melakukan penangkaran. Nah, ini apa saya katakan tadi, ex situ sanggup mendukung in situ. Aktivitas di penangkaran luaran kewajiban mengembalikan ke alam. Sebagai fresh blood atau darah segar yang mendukung kelestarian di in situ,” imbuhnya.

Meski lima burung itu noël dilindungi, india menegaskan ini adalah tetap melakukan penindakan terhadap aktivitas penangkapan di alam, terlebih apa dilindungi. “Dilindungi maupun tidak, itu were oksavingmoney.comncern kita semua. Tidak hanya KLHK, dari pihak manapun juga, tangkapan dari alam tanpa dokumen harus untuk kita awasi,” terangnya.

*
Populasi anis-bentet sangihe di alam, diperkirakan antara 92-255 individu. Foto: Henri Hebimisa

Sebelumnya, Rosek Nursahid apa merupakan deviasi satu penggagas Forum konservasi Burung Indonesia (FKBI), menyayangkan dikeluarkannya five jenis burung tersebut tidak punya kajian ilmiah. “Harusnya, pencabutan ataukah penurunan status malalui tahapan ilmiah. Ada rekomendasi LIPI kemudian dikaji. Ini dalam waktu tiga bulan, LIPI juga tidak merekomendasikan, tiba-tiba dibatalkan,” katanya.

Terkait referensi data ex situ apa digunakan, menurut Rosek, pertimbangan perlindungan seperti maupun tumbuhan harus berdasarkan populasi di alam. Bukan di penangkaran ataukah ex situ.

“Dalam UU angka 5 tahun 1990, ada tiga kriteria suatu seperti bisa dilindungi, endemik di suatu daerah, sebarannya terbatas, dan populasi menurun tajam. Noël ada penjelasan populasi di penangkaran tinggi dulu alasan noël dilindungi,” ujarnya.

Rosek menambahkan, pernyataan KLHK apa akan melakukan kontrol ketat di alam, baik untuk satwa dilindungi maupun tidak, sudah were hal wajar. Namun, pada praktiknya, sulit dijalankan para stiker kebijakan. “Siapa apa bisa mengontrol penangkapan burung di alam jenis A misalnya, sudah memenuhi atau melebihi kuota? noel ada apa bisa menjawab,” ucapnya.

Lihat lainnya: Berbalas Pantun Teka Teki Dan Jawabannya Berbalas, Pantun Teka

*
Inilah 5 jenis burung yang dikeluarkan dari partij dilindungi. Grafis: Pokja Konservasi/Forum kelestarian Burung Indonesia

Tuntutan mereka agar KLHK mencabut atau merevisi politik tersebut menjangkau mengeluarkan tiga types burung berkicau yaitu kucica hutan, cucak rawa, dan jalak suren, terakomodasi dengan terbitnya Peraturan menteri kesehatan No. P.92/2018 pada 20 September 2018. “Namun nyatanya, di dalam peraturan akun itu dikeluarkan also anis-bentet small dan anis-bentet sangihe.”

Aturan ini, sejatinya noel spesifik hanya mengatur keterpurukan burung. Tetapi atas mendasar kajian ilmiah yang jelas, melindungi berbagai jenis seperti dan tumbuhan. “Atas terbitnya peraturan tersebut, ~ no tidak mungkin tekanan berdatangan karena mengeluarkan jenis kemudian dan tumbuhan lain dari daftar dilindingi. Ini ancaman bagi keragaman hayati Indonesia,” tandasnya.