Oleh: Dr. Ismail Yahya, M.A(Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat/Dosen Fakultas Syariah)

#BanggaIAINSurakarta

Keberhasilan penyebaran Islam di kanton Arab yang hanya dalam rentang waktu 22 tahun merupakan capaian terbesar dalam waktu paling kilade dalam sejarah umat manusia. Keberhasilan apa fenomenal itu incuver dari sosok pribadi apa sangat sederhana, santun, penyayang, apa melaluinya Allah menginginkan beliau dan agama apa dibawanya (Islam) dulu rahmat bagi semesta alam. Sosok tersebut tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW. Juga di di dalam sebuah Hadis disebutkan bahwasanya beliau adalah rahmat yang dihadiahkan melalui Allah kepada seluruh intisari semesta.

Anda sedang menonton: Apa yang dimaksud rahmatan lil alamin

Empat Khalifah Rasyidin meneruskan pembebasan (futuh) wilayah-wilayah lain semisal Persia, India, dan Afrika Utara. Usaha pembebasan ini kemudian diikuti malalui khilafah Umayah, Abbasiyah, dan Usmaniyah usai wilayah-wilayah lain kemudian Andalusia (Spanyol), dan Asia Tengah. Variasi dengan wilayah-wilayah Islam apa disebutkan di atas yang kebanyakan dibebaskan melalui peperangan, kanton Asia Tenggara (Nusantara atau Kepulauan Melayu-Indonesia), sebagaimana kebanyakan sejarawan menyebutkan, menikmati evolusi Islam lewat cara damai (pénétration poksavingmoney.comifique) yaitu oleh usaha dakwah para sufi pengembara (the hike derwishes). Bahkan lewat para menjatuhkan ini, sesungguhnya Islam berkembang luasbutuh di kepulauan ini (Al-Attas, 1963: 22; Johns, 1961: 13-17; dan Azra, 2004: 14-19).

Tasawuf, kelewat merupakan elemen aktif di batin penyebaran Islam. Memang para menjatuhkan bersedia karena menerima dan manfaat elemen-elemen budaya dipum masyarakat Nusantara, namun mereka tetap membudaya prinsip-prinsip moral: mendorong berbuat virtue dan menahan diri dari does kejahatan (Johns, 1961: 22). Keberhasilan para sufi dalam mengislamkan inhabitants Nusantara ini tambahan disebabkan melalui “kemampuan mereka menyajikan Islam batin bentuk apa atraktif, khususnya dengan menekankan penyerta budaya-budaya dipum penduduk mencapai ajaran Islam (continuity), ketimbang does perubahan (change) terhadap kepercayaan dan praktik keagamaan lokal” (Azra, 2004: 14). Keberhasilan Islam tasawuf ini dengan segala pemahaman dan menerjemahkan mistisnya terhadap Islam dalam beberapa segi tertentu “cocok” menjangkau latar belakang masyarakat bergaul yang dipengaruhi malalui asketisme Hindu-Budha dan sinkretisme kepercayaan lokal. Di samping kecenderungan tarekat sufi bersikap kelembutan terhadap pemikiran dan praktik lokal tersebut (Azra, 1989: XV). Himpunan paham sunni (Ahlussunnah waljamaah) ala teologi (kalam) Al-Asy’ari, fiqh mazhab Syafi’i dan mistisisme Al-Ghazali ini berkembang dan mengakar kokoh di utama Nusantara hingga sekarang. Namun pada mulai abad ke-19 M tepatnya diatas akhir tahun 1803 atau di lima 1804, tiga rakyat haji boksavingmoney.comk dari Mekkah ke Minangkabau, sumatra Barat. Mereka menyaksikan penaklukan Mekkah oleh Wahabi, sebuah kelompok puritan di batin Islam di awal five 1803, yang satu abad kemudian menaklukan Mekkah bagian belakang dan mendirikan bangsa Arab Saudi. Dari prospek sejarah, gerakan padri pada abad ke-19 M di Minangkabau mengawali gerakan dasar Muslim di Indonesia.

Dewasa ini pun berbagai pemahaman, pemikiran, ideologi, dan gerakan-gerakan apa terkait mencapai Islam berkecambah bak shiitake di monsoon hujan. “Kedamaian” sosial muslim Nusantara yang dulunya bangga dengan sejarah Islamisasi Nusantara menjangkau cara damai dan menghargai budaya lokal, mulai tergoyahkan. Di awal orde untuk merevolusi secara massif gerakan-gerakan radikal Muslim bagian belakang bermunculan tidak hanya di Jawa, namun juga melebar ke Sulawesi dan Ternate, Maluku (Yahya, 2008: 142-143). Peristiwa bom Bali ns 12 Oktober 2002, bom Bali II 1 Oktober 2005 dan aksi-aksi pemboman berbeda menyentakkan metode Indonesia khususnya umat Islam tentang apa yang sedang terjadi di dalam pemahaman dan pemikiran sebagian umat Islam di Indonesia. Taoisme takfiri yaitu mengkafirkan orang Islam yang tidak sepaham dengan kelompok orang Islam berbeda berkembang di tengah sosial hingga masuk ke dalam booker pelajaran siswa sekolahnya menengah. Para ulama dan cendikiawan apa mengkhawatirkan development pemahaman dan pemikiran takfiri dan semisalnya ini di Indonesia yang kebanyakan diimpor dari wilayah-wilayah bentrok di Timur sentral berusaha meningkatkan pemahaman dan pemikiran Islam yang mengedepankan kasih sayang, kesantunan, toleransi, keseimbangan apa sejak sebelum sudah menjadi gerakan mainstream (utama) di Indonesia. Deviasi satu gagasan tersebut adalah Islam Rahmatan Lil’alamin. Kehadiran gagasan Islam Rahmatan Lil’alamin ini dulu penting di sentral menguatnya kontestasi woksavingmoney.comana dan aksi tengah gerakan Islam di Indonesia. Karena itu sebelumnya perlu kiranya diketengahkan penjelasan sekitar makna Islam Rahmatan Lil’alamin tersebut.

Pengertian Islam Rahmatan Lil’alamin

Kata orang, sebuah pemikiran atau konsep merupakan anak zamannya, at-turats ibn ‘ashrih, lahir dari context zamannya. Demikian pula dengan gagasan Islam Rahmatan Lil’alamin ini. Secara bahasa kata Islam berasal dari kata salama ataukah salima apa berarti damai, keamanan, kenyamanan, dan perlindungan. Menurut Muhammad Tahir-ul-Qadri (2014: 74) batin Fatwa tentang Terorisme dan bombarded Bunuh Diri, “seperti makna literalnya, Islam adalah pernyataan absolut sekitar perdamaian. Dan such agama, Islam adalah manifestasi damai menemani itu sendiri. Dia mendorong manusia untuk menciptakan kehidupan proporsional, damai, sepenuhnya kebaikan, keseimbangan, toleransi, sabar, dan menahan marah.” Dari kata salima were yaslaamu, salaaman, dan salaamatan, serta kata turunan lainnya, apa di di dalam Al-Qur’an menjelaskan bahwa setiap kata berasal, terderivasi, serta terkonjungasi dari kata Islam, secara esensial merujuk kepada pengertian damai, perlindungan, keamanan, dan kenyamanan (Tahir-ul-Qadri, 2014: 82). Hadis-hadis Nabi Muhammadρ banyak apa mengilustrasikan makna Islam sebagaimana pengertian di atas, antara lain:

*

Dengan tiga Hadis ini cukuplah buat mengatakan dari kajian bahasa bahwa Islam sebagai agama secara normatif memastikan terwujudnya kedamaian dan keselamatan karena seluruh umat manusia, dan people muslim noel lain adalah mereka apa mewujudkan nilai-nilai luhur Islam tersebut. Istilah rahmatan lil’alamin terdiri overhead dua kata rahmat apa berarti kasih sayang, dan lil’alamin yang berarti seluruh alam. Istilah ini sebagaimana tercantum di batin surat Al-Anbiya’ (21): 107. Menurut Ath-Thabari (224-310/838-923) di batin Jami’ul Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, para ulama tafsir various pendapat mengenai niat ayat ini, apakah rahmat menemani itu ditujukan kepada seluruh alam, termasuk orang-orang kafir? atau hanya kepada orang-orang beriman? Menurut Ath-Thabari yang most benar adalah pendapat pertama. Adapun bagi setiap orang beriman maka sebetulnya Allah memberikan petunjuk kepadanya dan memasukkan keimanan setelah dalam dirinya dan memasukkanya nanti dalam surga dengan diperkerjakan amal yang diperintahkan Allah. Adapun bagi orang kafir menyertainya berupa penundaan bala’ sebagaimana yang diturunkan kepada umat-umat yang mendustakan rasul-rasul Allah sebelumnya.

Bisa dikatakan gagasan Islam Rahmatan Lil’alamin ini masih treatise abstrak. Agar lebih operasional, pengertian Nur Syam berikut ini mungkin menjelaskan gagasan Islam rahmatan lil’alamin tersebut, yaitu gagasan dan upaya orang Islam special di Indonesia menjadikan: Islam kemudian rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya keselamatan bagi umat ​​manusia tetapi juga untuk intisari lainnya. Yang diselamatkan adalah hablum minallah, hablum minan nas dan juga hablum minal alam. Keselamatan manusia noel ada artinya jika alam noël dalam keselamatan. Makanya Islam yang menyelamatkan adalah Islam apa memberikan berani bagi semuanya.

Lebih next Nur Syam mengatakan bahwa gagasan Islam rahmatan lil’alamin menguat pola hubungan antar manusia yang pluralis, humanis, dialogis dan toleran, serta timbul pemanfaatan dan baris alam dengan rasanya kasih sayang. Pluralis di dalam arti memiliki relasi tanpa memandang suku, bangsa, agama, ras ataupun titik lainnya apa membedakan antara satu people dengan orang lain. Humanis di dalam arti menjunjung tinggi ke kanan asasi manusia dan menghargai manusia seperti manusia. Dialogis di dalam arti semua persolan yang muncul seperti akibat interaksi sosial didiskusikan secara baik dan akomodatif terhadap beragam pemikiran. Dan toleran dalam arti memberi kesempatan kepada yang lain untuk melakukan sebagaimana yang diyakininya, dengan sepenuhnya rasa damai. Hubungan dengan profil manusia/siswa yang dihasilkan melalui institusi pendidikan agama Islam ke dokter adalah bangunan Islam Indonesia apa berwajah menyelamatkan relasi antar umat ​​manusia dan relasi antar manusia dengan alam, sebagai perwujudan Islam yang rahmatan lil alamin, apa dalam konteks world Islam di atas umumnya dan Indonesia pada khususnya sedang mengahadapi persoalan apa berkebalikan mencapai gagasan Islam rahmatan lil’alamin such kekerasan, ekstremisme, radikalisme, dan terorisme.

Ekstremisme/Ghuluw tantangan Islam Rahmatan Lil’alamin

Sejak kasus serangan nanti menara pasangan WTC 9 September 2001, merek radikal dan bahkan teroris patuh dikaitkan noel saja kepada orang Islam, bahkan kepada Islam akun itu sendiri. Ada apa beranggapan bahwa AlQur’an dan Hadis Nabi memang mengajarkan people Islam karena melakukan kekerasan kepada rakyat lain.12 Namun faktanya refers sebaliknya bahwa mayoritas sosial Islam di seluruh dunia tetap dalam pemahaman apa sama bahwa Islam adalah agama cinta perdamaian. Lahirnya pemahaman apa “menyelisihi” pemahaman mayoritas rakyat Islam circa pesan damai Islam apa akhirnya membentuk pemahaman radikal/ekstrem (Arab: ghuluw) oleh sebagian small umat Islam, sebenarnya dari perspektif sejarah, sudah dimulai di ~ zaman Nabi masih hidup dilanjutkan melalui mereka-mereka yang membelot diatas zaman Khalifah Usman dan Khalifah Ali yang then disebut dengan Khawarij.

*

Secara umum bentuk ghuluw itu menurut Abdurrahman bin Mu’alla al-Luwaihiq (1992: 70-77) di batin “Al-Ghuluw fi ad-Din fi Hayah al-Muslimin al-Mu’ashirah” terbagi ke dalam dua bentuk: al-ghuluw al-kulli al-i’tiqadi (terkait mengganggu akidah) dan al-ghuluw fi al-juz’i al-‘amali (terkait mengganggu perilaku). Yusuf al-Qardhawi batin Ash-Shahwah al-Islamiyyah bayna alJuhud wa at-Tatharruf (terjemahan Indonesia: membedah Islam “Ekstrem” 2001: 29-49) keluar kriteria seseorang dapat dianggap ekstrem batin beragama: 1. Fanatik pada suatu pendapat dan noel mengakui pendapat-pendapat lain. 2. Tugas atas manusia sesuatu yang tidak diwajibkan malalui Allah atas mereka. 3. Memperberat yang noel pada tempatnya. 4. Sikap berbisa dan sulit (kecuali di sentral medan kediktatoran dan di dalam rangka pelaksanaan sanksi hukum). 5. Buruk sangka terhadap manusia. 6. Terjerumus di dalam jurang pengafiran (takfiri). Lanskap fenomena ekstremisme apa marak belakangan ini di dunia Islam, para penyelidik telah banyak melakukan pengkajian terhadap fenomena ini. Dan banyak yang menyamakan tua ekstremisme sebagian rakyat Islam sekarang ini dengan apa yang dilakukan malalui Khawarij di ~ masa lalu. Sasaran penelitian terhadap faktor-faktor alasan ektremisme dalam beragama ini misalnya ditulis melalui Yusuf al-Qardhawi batin Ash-Shahwah al-Islamiyyah bayna al-Juhud wa at-Tatharruf (terjemahan Indonesia: dipatok Islam “Ekstrem” 2001: 50-95). Menurutnya faktor-faktor ekstrim itu: 1. Lemahnya berpawai terhadap luwes agama 2. Kecenderungan zahiriyah/harfiyah dalam memahami nash-nash 3. Hidup mempertetangkan hal-hal sampingan seraya melupakan problem-problem kurung 4. Berlebih-lebihan dalam mengharamkan 5. Pemahaman keliru di dalam beberapa pengertian/istilah 6. Mengikuti apa tersamar (mutasyabihat) dan meninggalkan yang jelas (muhkamat) 7. Mengambil ilmu ndak dari ahlinya 8. Berpaling dari ulama 9. Lemahnya pengetahuan circa sejarah dulu penting buat mengupayakan langkah-langkah antisipatif menahan lajya masalah ekstremisme ini, terutama di sekolah-sekolah. Sekolah/Kampus dan pendidikan Islam Rahmatan Lil’alamin Para pemuda merupakan membidik strategis karena disusupi dan diindoktrinasi malalui ekstremis. Nabi Muhammad siap memberikan sinyalemen nanti arah tersebut:

*

Menurut Muhammad Tahir-ul-Qadri (2014: 337) kata ahdas al-asnan dan sufaha al-ahlam di dalam Hadis di atas bisa enim bahwa Khawarij merupakan orang-orang anak laki-laki atau menggunakan orang muda buat mewujudkan tujuan-tujuan mereka. Agar terhindar dari infiltrasi dan indoktrinasi paham ini, oleh untuk itu, sekolah –dalam hal ini gurumerupakan benteng kedua nanti orang tua dalam menyemai Islam Rahmatan Lil’alamin. Peran guru/dosen were penting di dalam menjelaskan dan mencontohkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh makhluk semesta di dalam melahirkan generasi apa berkarakter pluralis, humanis, dialogis, dan toleran, serta menghargai alam. Guru/Dosen (Arab: mu’allim, muaddib, mudarris, syekh, imam) kemudian sumber belajar bagi para siswa/mahasiswa merupakan faktor paling penting batin tradisi keilmuan Islam pada masa klasik. Mereka apa belajar tanpa guru, hanya melalui media tertulis atau audio-visual, diibaratkan malalui Kuntowijoyo kemudian “Muslim tidak punya masjid” ~ di dalam tradisi sufi dikenal ungkapan “Man la syaikha lahu fa asy-syaithan syaikhun lah.” Kitab-kitab klasik di dalam dunia training Islam kemudian Ta’lim al-Muta’allim karya Az-Zarnuji (w. 591/1195) dan Tazkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim karya Ibnu Jamaah (639-723/1241- 1325) menempatkan arti berbiaya guru batin pendidikan siswanya.

Setelah guru, manner pengajaran yang digunakan pada masa klasik Islam mencapai membiasakan menghargai perbedaan pendapat, mengikuti dan mempelajari mazhab/aliran argumentasi tertentu yang masih berada batin koridor religius dengan noel fanatik,16 menempatkan wahyu dan nalar secara proporsional, serta terdidik di batin kehalusan budi dan di dalam di di dalam akhlak/tasawuf, telah dulu bukti di dalam sejarah bagi perkembangan Islam yang toleran dan damai.17 Wallaahu a’lam…

Referensi:

Al-Qur’an dan Terjemahnya

Kitab-kitab Hadis di di dalam Al-Maktabah al-Syamilah

Al-Attas, Syed Muhammad Naguib, Some aspects of Sufism: together Understood and Proksavingmoney.comtised among the Malays. Singapore: Malaysian Sociological research Institute, 1963.

Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur sentral dan kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Akar reform Islam Nusantara, edisi revisi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2004.

………………….., renaisans Islam Asia Tenggara: historia Woksavingmoney.comana danKekuasaan. Bandung: remaja Rosdakarya, 1989.

Syam, Nur, Merumuskan Islam Rahmatan Lil’alamin di http://nursyam.uinsby.oksavingmoney.com.id/?p=514 …………………., building Pendidikan Berbasis Islam Rahmatan Lil’alamin, ppt.

Tahir-ul-Qadri, Muhammad, Fatwa sekitar Terorisme dan dibom Bunuh Diri. Jakarta: LPPI, 2014.

Ath-Thabari, Jami’ul Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, (Beirut: Mua’assasah arRisalah, 2000), Al-Maktabah asy-Syamilah.

Lihat lainnya: Arti Lagu More Than You Know By Axwell Λ Ingrosso, Terjemahan Lirik Lagu More Than You Know

Yahya, Ismail, Ancaman dicuri Radikal: Mitos atau Realitas? Belajar dari Pengalaman Surakarta, di dalam Generasi Baru penyelidik Muslim Indonesia: temukan Ilmu di Australia. Canberra: Australia-Indonesia Institute, 2008.

Johns, A.H., “Sufism as a group in Indonesian literature and History.” JSAH, Vol. 2, No. 2 (Jul. 1961): 10-23