Hallo Perseners! lengthy weekend diatas kemana nih? Ada untuk merencanakan cobain bioskop yang baru re-opening kah? ataukah tetep dalam aja? Ya, apapun itu pilihan liburan lo, semoga lo bisa ~ memanfaatkan times luang di samping itu mungkin, biar berbadan lo tambahan bisa ter-recharge energi positifnya.

Anda sedang menonton: Apakah sistem pendidikan di indonesia sudah baik

*

Sesuai judul yang udah lo baca, kali ini gue menjadi nemenin lengthy weekend lo mencapai tulisan apa beda dari biasanya. Kalau minggu-minggu lalu gue kebanyakan nulis sekitar kesehatan mental, buat sekarang waktunya gue ngulik kyung pendidikan di Indonesia.

Gue mau lo kasih pendapat circa pendidikan di Indonesia ataukah di Dunia, lo sanggup kasih pendapat lo lewat tret dan cite twitternya Satu Persen di
oksavingmoney.com_id ya, gue tunggu.

*
Photo through GoRiau

Well, udah ~ no hal apa asing another kalau kita debat sistem pendidikan. Ngomongin soal mendidik gue mau tanya, times lo sekolah ada gak sih mata pelajaran apa lo gak suka? Pernah gak sih rasa lo pengen cabut kelas pas pelajaran Kimia? atau Ekonomi? Jujur gue sih pernah haha.

Waktu gue SMA males banget kalau disuruh ngerjain soal Kimia. Harus hafal tabel periodik lah, belum lagi harus hafal rumus, harus ngitung pula. Sampai gue tuh ngerasa “Kayaknya gue salah masuk jurusan deh”. Tapi dipikir lagi di jurusan IPS tambahan ada Geografi yang harus hafal lapisan batuan yang gak tau gunanya untuk apa.

Mungkin kalau sekarang gue dikasih soal SMA, kayaknya gue gak become bisa ngerjain deh. Sedih:’). Bertahun-tahun belajar tabel periodik, sekarang dilupakan gitu aja. Ya karena setelah gue lulusan sekolah ilmu apa gue pelajari waktu sekolah kawanan gak gue pake, buat gak called juga. Enim lupa aja gitu dan sampai muncul pun gue masih gak tau what gunanya gue pelajari tabel periodik.

Mungkin karena lo apa ngambil FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Alam) menjadi relate kemiripan pelajaran SMA IPA. Tapi untuk anak jurusan seni? atau anak psikologi kayak gue? Pelajaran sekolah tuh cuma matematika statistik doang yang gue pake. Kadang gue tuh ngerasa bertanding banget waktu sekolah belajar matematika terpisahkan sampai bikin terutama migrain, menampakkan gak kepake. Dan gue masih bertanya-tanya ngapain sih harus belajar pelajaran itu? Kalau pelajaran yang ada di sekolah aja gak crowd kita pakai, terus untuk apa tujuannya warisan pendidikan kalau kerajaan gitu?

Sebenernya maafkan saya sih tujuan mendidik itu?

Pandangan terkait gawangnya pendidikan bisa akan berbeda-beda dan bisa memanggang perdebatan kerumunan pihak. Kalau menurut UU No. 2 lima 1985, tujuan pelatihan itu untuk mencerdaskan kehidupan country dan timbul manusia yang seutuhnya. Pertanyaannya adalah apakah sistem pendidikan yang ada menampakkan bisa menguat siswa were manusia seutuhnya? menjangkau sistem yang terkesan maksa siswa untuk belajar pelajaran yang siswa gak suka.

Gue also yakin gak segenap siswa itu shang sama pelajaran yang ada di sekolah, tapi buat ada standar pengeluaran yang harus dicapai buat naik kelas/lulus mau gak mau siswa harus mempelajari semua mata pelajaran itu.

Mungkin ada siswa yang gak bisa ngerjain soal matematika belum tentu karena dia bodoh, tapi untuk gak shanks aja. Mau les privat sekalipun kayaknya gak become bisa bikin dia memanggang pemenang olimpiade kalau di atas dasarnya itu gak punya minat matematika.

Apakah mencapai cara sebagai itu gawangnya pendidikan ini adalah tercapai? Gue rasanya gak akan ya. Karena sesuatu hal yang dipaksakan pasti hasilnya pun gak maksimal. Dan percayalah semua orang terlahir unik, bayinya banget kalau harus dibentuk mencapai cara apa kaku kayak warisan pendidikan formal apa ada sekarang.

*
Photo through Brilio.net

Seorang tokoh psikologi Howard Gardner yang terkenal dengan teori Multiple Intelligences, bilang kalau semua rakyat gak dilahirkan dengan semua kecerdasan. Gardner also menyebutkan ada delapan types kecerdasan: Linguistik, visual spasial, musikal, kinestetik, logis-matematis, naturalis, interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. Dan semua people pasti memiliki salah satu kecerdasan ini. Jadi sebenernya gak ada anak apa terlahir bodoh atau pintar, apa ada adalah anak apa menonjol batin satu ataukah beberapa kecerdasan aja.

Jadi sanggup gue simpulkan kalau yang membuat siswa itu bersinar bodoh adalah ketika siswa melaksanakan mempelajari pelajaran yang sebenernya itu gak shang dan kecerdasan dia ndak di satu pelajaran itu, didefinisikan nilainya pun gak memuaskan. Padahal kalau mengeksplorasi lebih baik lagi bisa siswa apa bodoh di pelajaran matematika ini adalah unggul di pelajaran melukis.

“Mengajari ikan untuk terbang hanya akan produksi si ikan memanggang mati” -Deddy Corbuzier

Masalah aset Pendidikan Saat Ini

Ngomongin masalah asetnya pendidikan masih kawanan banget PRnya. Kak Evan juga udah pernah bahas tentang masalah mendidik di video youtubenya Satu Persen. Here gue mau coba ajak lo berdiskusi, apakah aset pendidikan Indonesia saat ini udah maksimal?

Sejak tahun 2000 negara-negara di world termasuk Indonesia disusul tes PISA setiap tiga lima sekali. PISA (Programme for worldwide Student Assessment) adalah studi internasional kyung prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun. Dan data terakhir lima 2018 Skor PISA Indonesia termasuk dalam kategori rendah, yaitu Indonesia ada di peringkat 70an dari 78 bangsa di masing-masing aspek memperkirakan PISA (membaca, matematika, dan sains).

Pada realitanya pun terms sistem pendidikan di Indonesia masih mendesak memprihatinkan. Contohnya masih banyak anak-anak Indonesia yang belum mendapatkan fasilitas sekolah apa layak. Apalagi dengan situasi penyakit menular dunia mode sekarang, kurikulum pembelajaran jarak jauhnya itu mendesak gak efektif buat siswa apa ada di daerah.

Karena kondisi apa mengharuskan siswa belajar dari rumah juga banyak menimbulkan mengganggu baru. Gue sempet lihat berita ada anak kelas 1 SD yang meninggal dianiaya rakyat tuanya buat susah diajarin pelajaran sekolahnya online. Miris ya. Belum lagi masih crowd masyarakat menjangkau sosial ekonomi status yang rendah gak sadar pentingnya pendidikan buat anak-anak mereka.

*
Photo by Sukabumiupdate

Dengan kondisi apa kayak gitu apakah asetnya pendidikan udah menjangkau tujuannya?

Kalau kata Neil deGrasse Tyson sih aset pendidikan belum bisa menjangkau tujuannya karena hal apa diutamakan di sekolah itu hanya sebatas biaya tinggi. Mungkin ini enim masalah pendidikan apa pertama, sekolah terlalu pintar IPK atau nilai, tapi nyatanya kehidupan gak just mementingkan nilai. Karena cost tinggi di sekolahnya itu gak menjamin orang itu akan selalu sukses. Banyak orang apa gak dapet biaya tinggi di sekolah tapi punya kehidupan yang sukses, contohnya Albert Einstein.

Masalah apa kedua adalah sekolah hanya menjelaskan “Apa” ndak “Kenapa”. Kayak apa udah gue singgung di awal, kita itu udah banyak mempelajari mata pelajaran waktu di sekolah. Kalau menampakkan gue berbicara lo sebutin apa aja apa lo pelajari waktu sekolah pasti lo mungkin jawab. Belajar Matematika integral, Fisika tindakan newton, geografis lapisan batuan bumi dan lain-lain. Tapi apakah lo tau mengapa semua menyertainya diajarkan di sekolah? Kayak apa udah gue bilang tadi, gue sendiri masih mempertanyakan ini.

Hal akun itu malah memunculkan permasalahan ketiga yaitu sekolah membunuh kreativitas muridnya. semua murid tuh melaksanakan harus mempelajari hal apa sama sama segenap orang, kapan dia harus belajar tambahan diatur dan murid tambahan harus mencapai standar apa sama. Dan also semua siswa dari latar belakang apa beda harus punya pencapaian sama, contohnya UN setiap orang anak dari berbagai latar belakang harus menjangkau standar yang sama karena lulus. Kalau kata sir Ken Robinson, cara kerajaan gini malah killing kreativitas siswa. Dan dampaknya minat siswa tambahan jadi berkurang.

*
Photo by Coretan Naufal

Permasalahan keempat adalah pelajaran apa diajarin di sekolah itu gak relevan mencapai kebutuhan kita untuk menjalani kehidupan. Banyak banget hal yang kita butuhkan buat kehidupan tapi gak diajarin di sekolah. Kayak gimana cara membangun rasanya percaya diri apa menurut gue penting untuk kehidupan tapi gak diajarin. Banyak orang apa bertalenta tapi gak sanggup menunjukan talentanya untuk gak percaya diri. Begitupun sebaliknya kerumunan orang yang sebenernya gak bertalenta-talenta amat tapi sanggup sukses ya untuk dia percaya diri.

Hal apa penting lain public speaking yang bener, atau cara menyortir keuangan, leadership atau apa lain lagi. Itu sangat penting buat keberlangsungan lives sebenernya. Apa semua itu lo dapetin waktu lo belajar di batin kelas dulu? berapa persen sih ilmu yang lo pelajari di sekolah mungkin lo pake di kehidupan lo sekarang? Menurut gue gak sampai 50%.

“Jahatnya mendidik Indonesia adalah bisa produksi siswanya noël bisa yakin bahwa dirinya berbeda dengan setiap orang lain” -Pandji Pragiwaksono

Sebenarnya masih crowd lagi mengganggu dari asetnya pendidikan saat ini. Nah, pertanyaannya adalah apakah bisa ~ sekolah menyiapkan siswa-siswanya karena terjun langsung ke dunia benar kalau empat mengganggu ini masih ada? Gue rasa belum ya.

Di start tulisan ini gue ngebahas soal skor PISA Indonesia apa tergolong rendah, halaman ini menunjukan bahwa siswa yang sudah lulusan sekolah belum bisa siap buat menjalani kehidupan. Belum siap untuk beradaptasi dengan world pekerjaan, ataukah mungkin belum siap buat menghadapi kemajuan iptek dengan maksimal. Untuk PISA menemani itu gak menilai meraih siswa lewat hafalan aja, tapi fokus usai gimana siswa itu sanggup siap di dalam menjalani kehidupan.

Siswa harus sudah menghadapi tantangan di masa depan dengan perkembangan iptek. Selama robot sudah bisa perwakilan pekerjaan manusia apakah bisa siswa Indonesia beradaptasi? Siswa also harus punya penalaran logika yang baik setelah lulusan sekolah. Untuk ini merupakan hal apa mendasar saat seseorang mempelajari sesuatu. Kalau logikanya gak baik maka pelajaran apapun gak sanggup diterima kontrol juga. Dan siswa harus punya kapasitas karena terus belajar selama hidupnya.

Kalau sistem pendidikan mungkin mewujudkan aspek-aspek pada sistem pendidikan bisa ia mengatakan berhasil membentuk siswa yang siap tempur di pasar industri kayak sekarang. Kenyataannya kawanan banget pengangguran, ~ Badan jadwal Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi diatas 2021 numeral pengangguran bisa mencapai 12,7 million orang. Seorang sarjana dari universitas ternama aja ada kok yang masih nganggur. Artinya pendidikan gak mungkin menjamin people akan cantik menghadapi dunia industri saat ini.

Hal ini mengapa bisa terjadi? buat banyak orang yang gak punya skill yang dibutuhkan sama industri sekarang. Ada kesenjangan antara maafkan saya yang kita pelajari dengan maafkan saya yang dibutuhkan dunia saat ini. Dan bisa dibilang maafkan saya yang itupenggunaan pelajari di sekolahnya itu gak kepake sama dunia industri sekarang.

Banyak skill-skill baru apa dibutuhkan di industri sekarang tapi SDM apa ada menemani itu gak memadai karena memenuhi kebutuhan industri. Buat skill-skill yang dibutuhkan akun itu gak dikasih saat untuk kita sekolah. Kayak contohnya kawanan banget pemanggilan di media sosial kayak youtube, instagram dan lain-lain. Youtuber atau content creator go saat ini udah bisa memanggang pekerjaan. Tapi itupenggunaan gak pernahkan dapet pengetahuan circa itu?

Kayaknya dari orang başı kita sekolah sampe kita sekolah pelajaran apa dipelajari itu hampir kemiripan juga. Gak ada adaptasi yang dilakukan, padahal kemajuan industri sekarang menyertainya cepat banget. Makanya sebuah negara butuh meningkatkan biaya PISA biar sanggup beradaptasi dengan tantangan baru menampakkan ini.

Makanya butuh banget penilaian dan harus perubahan warisan pendidikan di Indonesia apa ada saat ini. Hal ini biar sistem pendidikan yang ada itu sanggup lebih relevan dan efektif buat diaplikasikan di abad ini.

Bisa dibilang kalau kurikulum apa ada menampakkan itu belum tepat buat bisa membentuk siswanya di dalam menjalani kehidupan sekarang. Dan pengajaran guru-guru sekarang juga gue rasa belum tepat. Tapi untuk kita gak bisa jenuh menyalahkan kurikulum dan guru di sekolah juga.

Karena bikin kurikulum personally itu susah, kerumunan pihak apa harus dilibatkan. Belum lagi trial and errornya saat diaplikasikan. Pasti ada pro-kontra also di masyarakat. Belum lagi kepentingan politik lain, untuk kalau gue perhatiin setiap ganti menteri kesehatan pasti kurikulumnya ganti lagi dan belum tentu lebih baik juga.

Nah, bab ini juga yang bikin perhitungan hal-hal ataukah ilmu baru tuh lambat untuk diimplementasikan. Akibatnya warisan pendidikan juga kurang sigap dalam beradaptasi. Guru also gak bisa beradaptasi maksimal buat gak mendapatkan fasilitas yang baik untuk mengajar.

Terus kalau gitu what solusi yang efektif buat mengatasi permasalahan apa terjadi di atas sistem pelatihan di Indonesia?

Nah, jawabannya ada di tulisan gue minggu depan. Lanjut gue ini adalah kasih tau lo solusi dari segenap permasalahan warisan pendidikan Indonesia yang terjadi saat ini. Jadi gue bertanya tentang lo resapi dulu masalah yang terjadi saat ini dan kasih tanggepan lo nanti gue sebelum kita debat solusi yang tepat.

Akhir kata gue mau ngucapin terima kasih buat guru-guru hebat yang ada di Indonesia, untuk sudah memberikan yang terbaik untuk murid-muridnya. Gue tau menjadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah.

Lihat lainnya: Berikut Contoh Kebutuhan Tersier Bagi Seorang Pelajar Yaitu, Kelangkaan Dan Kebutuhan Manusia

setiap orang orang bisa bisa memanggang seorang guru tapi gak semua people bisa menjadi guru apa baik karena muridnya.

Jangan lupa also tungguin tulisan gue minggu depan. Have a nice holiday! see you https://www.timesindonesia.co.id/read/news/299931/siswa-kelas-1-sd-tewas-karena-sekolah-daring-kpai-anak-jangan-jadi-korban

Pusmenjar. (2019). Tentang PISA. Recall from: https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/tentang-pisa/