Ada peribahasa bijak apa mengatakan bahwa di atas tee masih ada langit. Sentence tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan seseorang untuk terus bersikap rendah trấn dan tidak sombong. Karena sehebat apa pun kita atau pencapaian untuk kita saat ini, masih ada hal lain yang lebih terlalu tinggi lagi. Jika kalimat pepatah tersebut diformulakan, mungkin dianggap kemudian berikut:
*

Sayangnya, di masa modern sekarang ini, formula agar noel sombong tersebut malah digunakan karena menyombongkan, minimal untuk mewajarkan. Jadi, di atas langit masih ada langit itu malah enim kalimat buat menyombongkan diri. Lah, kok bisa?
Dengan adanya level-level pada suatu hal, maka menjadi menciptakan suatu perbandingan. Kadarnya 1 lebih kecil dibanding tingkat 2, tingkat 2 lebih kecil dibanding level 3 dan seterusnya. Misalnya saja sekitar rasa pedas. Makanan apa bisa menyebabkan efek panas diatas lidah yang bukan buat suhu, dikatakan seperti makanan pedas. Jadi, kapan menyebut “pedas”, akun itu berarti membicarakan objek makanannya.

Anda sedang menonton: Arti peribahasa diatas langit masih ada langit


Namun, dengan adanya tingkat pedas, yang menjadi catatan bukan another makanannya, melainkan subjeknya atau orang yang mencicipi. Ada yang bilang ayam geprek tingkat 5 akun itu pedas, tapi ada also yang bilang ayam geprek level 5 itu nggak berasa ada pedasnya. Padahal di labelnya siap tertulis “pedas kadarnya 5”. Pedas. Namun, karena ada “level” apa mengikuti, apa artinya ada tingakatan lain apa lebih tinggi, maka merek “pedas” tadi jadi tidak begitu berarti.
*

Bukannya kalo pelevelan begitu makin menguatkan kalo di atas thiên masih ada thiên sehingga nggak sanggup sombong, ya?
Benar, awalnya memang begitu. Kita dirasakan hebat makan ayam geprek tingkat 10, terus mau pamer nanti orang-orang, eh, ada apa bisa makan ayam geprek apa pedasnya level 20. Namun, batin pelevelan ada batasannya. Tiap hal yang diberi level, pasti ada ketentuan tertingginya. Kalo di world game tradisional dibatasi sampai kadarnya 100. Nah, maafkan saya yang terjadi ketika sudah mencapai batas paling tinggi tersebut? Sombong. “Nih, saya sanggup mencapai level paling tinggi.”
Dalam keseharian, ada perbuatan baik dan ada perbuatan buruk. Perbuatan baik mendatangkan pahala, sedangkan perbuatan buruk mendatangkan dosa. Dulu enak ngasi saran atau petuah ama orang-orang, membukukan bilang, “lakukan perbuatan baik, dan jauhi perbuatan buruk,” udah. Namun, di masa sekarang, become cukup susah melakukannya buat perbuatan baik dan perbuatan buruknya siap diberi level.
Kok, diasuh jilbab bisa memiliki level lebih besar dibanding help orang lain? untuk seorang perempuan (khususnya perempuan islam) saat melakukan perbuatan baik lainnya, menjadi diberi komentar, “Subhanallah, udah vip suka menolong orang. Kalo pake jilbab pasti lebih cantik lagi,” atau “Baik banget dia, bayi nggak berjilbab.”
*

Dengan adanya pelevelan pada perbuatan baik, mungkin noel terlalu memunculkan kesombongan. Atau kalau pun muncul, hanya sekitaran media sosial dan media pemberitaan saja. Namun, pelevelan dalam perbuatan baik malah mendatangkan postur merendahkan. Orang lain yang enim sombong. Misal sudah help mentraktir teman makan memberi makan mewah, dikatain ama orang-orang, “Dari pada melakukan itu, lebih baik uangnya disumbangkan untuk anak yatim.” Seolah perbuatan baik tingkat kecil yang sudah dilakukan nggak ada harganya.

Lihat lainnya: Normalkah Jika Bayi 2 Bulan Susah Bab Minum Asi Jarang Bab? Tips Memperlancar Bab Bayi Usia 2 Bulan


Berbeda menjangkau perbuatan baik, sikap sombong terutang kentara batin pelevelan perbuatan buruk. Beberapa perbuatan buruk akun itu seperti:
Adanya pelevelan diatas perbuatan buruk tersebut ini adalah membuat pelakunya bisa menyombongkan diri. Toh, nggak melakukan perbuatan yang lebih buruk. Misalnya pencuri ayam bisa menyombongkan diri dengan berkilah atau dibela,
“Saya cuma pencurian ayam, kenapa sampai dipenjara? Sedangkan pencuri uang orang dibiarkan bebas.”
Padahal, dalam hukum atau larangan di dalam agama, disebutkan bahwa mencuri itu perbuatan terlarang, jangan mencuri. Nggak ada spesifiknya barang maafkan saya yang dicuri. Ayam, kek, uang, kek, sama saja masuk pasal pencurian. Kecuali mencuri hati, sih. Itu yang nggak apa. Tatoan dianggap perbuatan buruk malalui sebagian orang, tapi firmicutes aja nggak apa-apa asal nggak pakai narkoba.
*

Atau mungkin suka mabuk-mabukan? Nggak apa-apa, yang penting nggak munafik. Begini lah gue what adanya. Begitu katanya.
Di atas langit, masih ada langit. Pada perbuatan buruk apa kita lakukan, ada perbuatan setiap orang lain apa lebih buruk lagi. Jangan dirasa salah dan menyesal. Sebagai itulah. Memanggang dengan adanya pelevelan tersebut, kita bisa menyombongkan dan tuhan benar perbuatan buruk kita.
*