*
Adegan sintin dan Trijata yang memakai kemben dan kain dalam relief Ramayana di Candi Panataran, Blitar. (blog Indonesieverleden).

TAK kalah menawan dengan Putri Indumati, ina dan uwa-nya, bersolek mengenakan baju merah. Keduanya belum terlalu tua. Haar mereka bergelombang, diselingi cat kelabu.

Anda sedang menonton: Baju adat jawa laki-laki namanya

Lalu para dayang belia datang suka dewi, mengenakan kemben bahan wulang emas. Selendang kuning murni apa mereka sampirkan diatas bahu tampak berkilauan sebagai sayap untuk terbang. Mereka masih keturunan kaum bangsawan sahabat raja. Mereka sentral menghadiri kompetisi memperebutkan Putri Indumati.

Suasana menyertainya diungkapkan malalui Mpu Monaguna, pujangga dari Kadiri pada abad ke-13 M lewat karyanya Kakawin Sumanasāntaka. Dari gambaran cilt itu terbayang bagaimana pakaian orang-orang di ~ masa lalu. Selain dari karya sastra, insula itu juga muncul di dalam relief candi dan prasasti.

Menurut Petrus Josephus Zoetmulder, fasih sastra Jawa Kuno, bahan wulang adalah perangkat busana perempuan saat seremonial. Formatnya secarik kain dengan berbohong sekitar tahun belas kaki yang dililitkan di atas batang tubuh. Wulang sekam tubuh dari pinggang sampai batas atas payudara.

Perlengkapan sandang apa dipakai pada abad ke-13 M menyertainya sedikit berbeda dengan cara gaun empat abad sebelumnya. Inda Citraninda Noerhadi di dalam Busana Jawa Kuna mengelompokkan jenis pakaian yang dijumpai batin relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur.


Kebanyakan, spesial perempuan, digambarkan tak lengan baju bagian payudara. Pakaian perempuan paling sederhana just selembar kain. Panjangnya sebatas lutut. Cara pakainya rotasi di badan dari arah kiri ke kanan dan berakhir di sisi kanan. Bahan itu dipakai di bawah pusar. Mereka tak pakai perhiasan atau just anting-anting sederhana. Terkadang dilengkapi selendang atau kain kecil di bagian pinggang.


Baca juga:Cerita kyung pakaian apa kita kenakan


Dalam relief itu, perempuan juga digambarkan memakai bahan dari sebatan bawah pusar hingga mata feet atau pergelangan kaki. Mereka biasanya pakai kalung, anting-anting, dan ikat pinggang berupa kain. Hiasan di terutama berupa haar yang disusun usai atas atau disanggul.

Sebagian yang lain, pakaiannya berupa bahan panjang apa sama such sebelumnya. Namun, dihiasi mencapai ikat di bagian panggul dengan hiasan permata dua susun. Pakaiannya lebih kerajaan dengan beragam perhiasan, gelang, kalung, anting-anting, kelat bahu, gelang kaki. Dipakai tambahan semacam tali polos apa diselempangkan dari bahu kiri usai pinggang kanan. Hiasan kepalanya berupa susunan haar yang diangkat tinggi dan diberi tambahan dengan hiasan permata.

Sementara buat pakaian pria, yang paling sederhana hanya memakai kain serupa cawat atau celana pendek. Ada pula yang memakai kain pendek sampai lutut atau bahan panjang hingga mata kaki. Mereka memakai perhiasan seperti gelang, kalung dan anting-anting, ditambah ikat pinggang. Rambutnya disanggul dan diberi hiasan sebagai bunga-bunga.

Pakaian penuh biasanya bahan panjang dilengkapi ikat pinggang berhiasakan permata. Ikat dada, selempang kasta ataukah upavita. Perhiasannya ramai, kemudian gelang, kalung, anting-anting, kelat bahu, dan gelang kaki. Hiasan kepalanya berupa mahkota apa tinggi berhias permata.

Kelas Sosial

Berdasarkan holistik relief itu, Inda melihat sosial biasanya tak pakai perhiasan. Mereka apa berkedudukan ditinggikan secara sosial seperti bangsawan apa mampu pakai beragam perhiasan, such mangkota, anting, kelat bahu, kalung, gelang, gelang kaki, dan sebagainya.

“Pada social berstatus rendah pakaian fungsinya lengan baju dan melindungi, sedangkan buat yang berstatus tinggi berfungsi menghias tubuh,” jelas Inda.


Beda lainnya dengan kaum brahmana. Para pendeta digambarkan berjubah apa bahu kanannya terbuka. Batin prasasti para pendeta diberi pakaian khusus yang disebut sinhel.

Hal yang sama diungkapkan bien Sejarah Dinasti Liang dari abad ke-6 M. Di Jawa, baik pria maupun wanita noël ada yang mengenakan penutup dada. Namun, mereka mengenakan sarung katun untuk menutupi bagian bawah tubuh. Rambut mereka dibiarkan tergerai.

Sementara kalangan kaum bangsawan dan raja mengenakan bahan bergambar bunga apa tipis (selendang) buat menutupi bagian atas tubuh. Mereka pun mengenakan ikat pinggang kuning dan anting-anting emas.

“Gadis-gadis bocah menutupi tubuh mereka dengan bahan katun dan mengenakan ikat pinggang sulam,” ungkap catatan yang diterjemahkan W.P. Groeneveltdt batin Nusantara dalam bien Tionghoa itu.


Baca juga:Gaya gaun Sultan Aceh Iskandar Muda


Tak cuma dari cara berpakaian. Jenis bahan pun demo identitas sosial. Supratikno Rahardjo di dalam Peradaban Jawa mengungkapkan berdasarkan data kata-kata pakaian laki-laki tradisional disebut wdihan. Sedangkan pakaian untuk perempuan panggilan kain atau ken.

“Saat upacara sima, di awal rangkaian acara pimpinan desa, yang mendapat anugerah sima dari raja, bagikan harta kekayaannya kepada anggota masyarakat apa berasal dari berbagai lapisan sosial, salah satunya pakaian,” jernih Supratikno.

Supratikno refers beberapa jenis bahan yang dikenal dalam sumber-sumber Jawa Kuno. Kain yang masuk batin jenis wdihan adalah ganjar haju patra sisi, ganjar patra sisi, ganjar haji, ganjar patra, jaro haji, jaro, bwat kling putih, bwat pinilai, pinilai, bwat lwitan, kalyaga, pilih angsit, rangga, tapis, siwakidang, bira/wira, jaga, hamawaru, takurang, alapnya, sularikuning, ragi, pangalih, ambay-ambay, lunggar, bwat waitan, cadar, lwir mayang, putih, raja yoga, pamodana, ron paribu, suswan, prana, sulasih, tadahan, dan syami himi-himi.


Sementara yang termasuk ken/kain adalah jaro, kalagya, pinilai, bwat wetan, bwat lor, pangkat, bwat ingulu, kalangpakan, atmaraksa. Kaki, putih, rangga, dan kalamwetan.

Kain-kain itu, menurut Inda, menghadiahkan kepada seseorang benar status sosialnya. Di dalam Prasasti Rukam 829 saka (907 M) disebutkan bahan jenis ganjar patra diberikan kepada Rakaryan mapatih ns hino, gelar karena putra sulung raja. Sementara di dalam Prasasti Tunahan 794 saka (872 M) ganjar patra diberikan kepada Sri Maharaja.

Pilih maging dalam Prasasti Sangsang (829 saka) juga diberikan kepada Sri Maharaja. Sementara dalam Prasasti Lintakan (841 saka) kain yang kesamaan diberikan kepada Rakryan i hino.

“Di di dalam Prasasti Poh (827 saka) wdihan kalyaga diberikan kepada rakryan mapatih i hino, halu, sirikan, wka, sang pamgat tiruan,” jelas Inda.


Baca juga:Sejarah kain yang terbuat dari kulit kayu


Di batin Prasasti Mulak 800 saka (878 M) disebutkan bahan jenis wdihan rangga diberikan kepada makudur. Dalam Prasasti Humanding 797 saka (875 M) wdihan angsit diberikan kepada samgat wadihati. Wdihan bira dalam jumlah orang Kwak i (801 saka) menghadiahkan kepada pejabat halaran, pangkur, tawan, tirip, dan sebagainya.

Lihat lainnya: Apa Aku Pernah Mengeluh Apa Aku Pernah Berlari, Chord Gitar Dan Lirik Lagu Salah

Dalam kata-kata Gandhakuti (1042 M) disebutkanpenerima daratkan istimewa diperbolehkan memakai what saja yang biasa dipakai di batin nagara. Mereka diperbolehkan pakai pakaian polaringring bananten apa mungkin artinya bahan halus,patarana benanten,kain berwarna emas, pola patah,ajonberpola belalang, berpola kembang, cat kuning, bunga teratai, berpola biji, bahan awali,dulang pangdarahan,dodotdengan subjek bunga teratai hijau,sadanganwarna kunyit, kainnawagraha, danpasilih galuh.

“Contoh batin kebudayaan Jawa (sampai sekarang, red.) ternyata terdapat politik menggunakan pakaian yang berkaitan dengan statusnya sosial,” kata Inda. “Pada penggunaan bahan batik, ada motif yang merupakan pantangan.”