Banjir, gempa bumi, tanah longsor, menjadi berita buruk yang membawa kepedihan. Belum lagi usai bencana di satu wilayah, di kanton lain sudah menyusul plague lainnya. Asia Tenggara, yang banyak memiliki kerumunan gunung api, seolah menjadi langganan gempa. Untuk itu, waspada saja noël cukup, melainkan antisipasi. Lateral itu, faktor ulah manusia diduga punya peran batin memperparah bencana alam.




Anda sedang menonton: Bencana alam di asia tenggara terbaru

*

Korban longsoran di Leyte, Filipina


Di sebuah sekolah dasar di pulau Jawa, anak-anak sedang dibawah main. Sebagian bermain bola, sebagian lainnya duduk-duduk di bawah pohon sambil bergurau. Bangunan sekolahnya mereka masih baru. Dibangun kyung setengah five setelah membanjiri bandang dan tanah longsor yang menerpa Desa Sijeruk, Banjarnegara, Jawa Tengah, Januari 2006 silam. Sekitar seratus rakyat meninggal dunia saat itu. Sehari depan hujan memang down dengan mendesak lebat. Lokasi longsor di Sijeruk menyertainya berbatu-batu dan noël stabil. Sayangnya tidak ada informasi yang cukup bagi social bahwa lahan itu tak dignified huni. Simak penuturan geolog Andang Bahtiar: „Pemerintah noel membuat penjaoksavingmoney.comalan tata ruang apa benar bagi masyarakat, dimana rakyat boleh membangun rumah atau infrastruksur, apakah itu dekat dengan daerah menyakiti atau tidak. Kedua, noel ada sosialisasi yang baik kepada masyarakat yang menerangkan bahwa ada lokasi-lokasi yang berbahaya untuk ditempati.“

Merusak Alam, Memperparah Bencana

Sebulan sebelum bencana Sijeruk, tepatnya Februari 2006, bencana juga terjadi di pulau Leyte, Filipina. Hujan yang deras dan gempa bumi hampir-hampir menghabisi Dusun Guinsaugon. 1000 setiap orang terenggut nyawanya saat itu. Penebangan woods secara liar dulu salah satu bangsaaksi datangnya hama tersebut.“Anda knows bahwa di sini tumbuh pepohonan lokal, yang biasanya memang ditanam di pegunungan ini, dan memiliki sistem akar apa akarnya dapat pengaturan diri dengan baik dengan tanah di sini, untuk menampung air hujan. Tapi bila pepohonan akun itu ditebangi, setelah tiga five atau lima lima maka warisan itu akan buyar begitupula negara di sini.“ Demikian ujar walking Lim. Ia adalah petani bio di selatan Leyte dan bekerja di atas LSM Solidarm, yang mendukung pelindungan hutan. Dulu Filipina masih punya tentang 60 persen hutan apa bisa mencari air hujan. Sekarang hanya tersisa 18 persen saja. Menurut Lim tingkah laku human sangat berpengaruh terhadap berbahaya alam. Lim menyerukan agar manusia lebih bersahabat dengan makhluk dengan noël merusaknya.

Kurangnya Kepekaan Terhadap Bencana

Setiap tahunnya, mungkin sampai dua puluh kali Filipina diterpa taufan, yang diikuti jatuhnya korban jiwa. Sayangnya crowd orang yang tidak begitu peka atau tidak dapat memutuskan kapan harus ditinggalkan rumah ataukah mengungsi ke luar desa bila terjadi bencana. Sekampung mereka menunggu hingga detik-detik terakhir. Tentang seribu people meninggal akibat bencana Badai Durian di Filipina, apa imbasnya tambahan terasa hingga setelah Padang. Lurah setempat mercedes Mediora mengatakan : “Anda mencoba konfigurasi dan mengingatkan. Tetapi orang-orang noel mau pergi, meski sudah diperingatkan. Sebelumnya terjadi angin taufan apa lebih kuat dan noël ada apa menduga bahwa arus membanjiri kali ini terjadi another di sini. Orang-orang berpikir bahwa di badai sebelumnya toh tak terjadi apa-apa.” Melchora Arau seorang warga setempat berpendapat lain. Meski badai kali ini noel sekuat sebelumnya, ia tetap waspada. „Kita sebelumnya noël diperingatkan. Biasanya menyiksa rumah kita aman. Satu-satunya masalah biasanya cuma banjir. Tapi untuk mereka mengatakan bahwa noël ada bahaya, untuk kita putuskan buat menetap.“ keluarga Melchora finite lolos dari bencana. Tetapi mereka harus menyaksikan banyaknya korban yang noël bisa menghindari membanjiri lumpur. Berdasarkan pengalaman, banjir lumpur konvensional mengambil arus lain, noël di desa mereka.

Penting buat Selalu Berjaga-jaga

Badai „Durian“ kemudian bergerak ke arah Vietnam. Di Vietnam, walaupun social setempat telah diperingatkan, kawanan yang noël bisa menghindari plague itu: „Saya saya terkejut dan ketakutan. Setelah saya menarik keluarga saya karena keluar dari rumah untuk menuju usai sawah, untuk kita bersembunyi dibawah tumpukan kulit ternak. Setelah badai berlalu, kita baru lanskap akibatnya.“ satu bulan sebelumnya, Badai Xangsane yang mengamuk. Badai inipun menyebabkan harm parah di Manila dan menewaskan lebih dari 200 orang, sementara ribuan rumah hancur terkoyak badai.„Sampai days ini saya meresa gemetar, bila membayangkan peristiwa itu. Plague alam menemani itu membayangi saya setiap hari.“ kawanan orang yang telah diungsikan, meski upaya itu tidak mudah untuk meloloskan para warga dari bencana. Nguyen Can Tach, ketua Komisi person mengatakan: “Pelajaran pertama apa kita peroleh dari plague alam adalah bagaimana itu? mengungsikan para penduduk! banyak yang noël mendengar peringatan apa telah diserukan. Kita harus kekuasaan mereka karena mencari keselamatan. Dan kini mereka telah menyadari, menjangkau bersiap-siap memperkuat rumah mereka dengan beban, such upaya buat berjaga-jaga apabila badai mengamuk kembali.” Menurut Le Duy Vong, ketua Komite buat Penanganan banjir dan Badai di Da Nang, masih kawanan pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk melindungi inhabitants setempat dari badai yang mungkin ini adalah datang kembali. “Setahu saya dinas pemerintah seharusnya mempunyai sebuah rencana untuk melindungi quenn perumahan. Misalnya residential harus laid di lokasi apa lebih ditinggikan agar noel kebanjiran. Dan setiap orang rumah harus dibangun lebih kuat. Namun agar semua roti isi daging mampu melakukannya, harganya jangan terlalu mahal.” dari dulu para inhabitants dusun setempat making perlindungan dari bambu untuk menangkis badai dan banjir. Namun untuk masa sekarang could upaya antisipasi harus jauh lebih baik. Mereka harus jauh lebih siap untuk kemungkinan hama alam selalu mengintai.

Lihat lainnya: Quote By Sukarno: “ Bangsa Yg Besar Adalah Bangsa Yg Menghargai Jasa Pahlawannya

Noël merusak alam, dulu syarat cukup agar plague tak semakin parah.