Boleh mencumbu istri kapan sedang puasa, menjangkau syarat aman dari disetujui mani.

Di antara dalilnya:

Pertama, dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan:

كان رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُقَبِّلُ وهُو صَائِمٌ وَيُباشِر وَهُو صَائِمٌ ولَكِنَّه كَان أَملَكَكُم لأَرَبِه

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium dan bercumbu dengan istrinya kapan puasa, namun beliau adalah rakyat yang most kuat menahan nafsunya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Kedua, batin riwayat yang lain, Aisyah also mengatakan:

كان رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُقَبِّلُني وهُو صَائِمٌ وأنا صائمة

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menciumku ketika beliau sedang berpuasa dan aku tambahan berpuasa.” (Abu Daud mencapai sanad pantas syarat Bukhari)

Ketiga, dalam hadis Ummu Salamah also menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciumnya selagi beliau sedang puasa (HR. Bukhari)

Sementara syarat noël boleh keluar mani adalah hadis apa menyebutkan keutamaan puasa. Di dalam hadis tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam refers sifat orang apa berpuasa, dialah tinggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya, dalam hadis qudsi tersebut Allah berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ: فَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ، إِلَّا الصِّيَامَ هُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، إِنَّهُ يَتْرُكُ الطَّعَامَ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

“Semua amal Ibnu Adam akun itu miliknya, dan setiap ketaatan dilipatkan sepuluh kali sampai 700 kali. Kecuali puasa, apa itu milik-Ku dan aku sendirilah apa akan membalasnya. Itu tinggalkan makanan dan syahwatnya karena-Ku.” (HR. Ad-Darimi, At-Thabrani, Ibnu Khuzaimah, dll)

Allah sifati orang apa berpuasa adalah orang yang meninggalkan syahwatnya. Artinya jika dia sampai dilepas mani selagi mencumbu istrinya maka dialah telah menunaikan syahwatnya, sehingga puasanya batal.

Semakna mencapai hadis ini adalah riwayat dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma bahwa Umar bin Khothab radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

هَشَشتُ يَوْمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ

“Suatu hari nafsuku garmen maka aku-pun mencium (istriku) padahal aku puasa, kemudian aku datang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata: Aku telah melakukan perbuatan yang menyakiti pada days ini, aku mencium sedangkan aku puasa. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتُ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ

Apa pendapatmu kalau kamu berkumur menjangkau air padahal kamu puasa?” Aku jawab: Boleh. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lalu kenapa mencium mungkin membatalkan puasa?” (HR. Ahmad dan dishahihkan Syu’aib Al Arnauth)

Dalam hadis Umar di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meng-qiyaskan (analogi) antara bercumbu dengan berkumur. Keduanya sama-sama rentan mencapai pembatal puasa. Selama berkumur, setiap orang sangat menutup dengan saya menelan air. Namun selama dia noel menelan air maka puasanya tidak batal. Sama halnya mencapai bercumbu. Suami terutang dekat mencapai keluarnya mani.


Anda sedang menonton: Bercumbu dengan suami saat puasa ramadhan


Lihat lainnya: Avanza Lama Vs All New Avanza, Plus Minus Avanza Lama Dan Baru

Namun selama noël keluar mani maka noel batal puasanya. *